SYAHADATKU – SYAHADATMU

ASY-HADU berarti: “saya bersyahadah”. Syahadah sendiri secara bahasa berarti pernyataan, berjani, dan sekaligus sumpah. Karena kata asy-hadu merupakan bentuk Present Continous Tense (fi’il mudhari), maka pernyataan, janji, dan sumpah seseorang yang telah bersyahadah tidak hanya berlaku pada detik diucapkan. Tetapi juga untuk waktu selanjutnya, setiap detiknya menuntut pembuktian syahadah orang tersebut (senantiasa sedang berlangsung). Dengan melihat arti secara bahasa saja, kita sudah dapat merasakan betapa beratnya bobot perkataan “Asyhadu” yang diucapkan seseorang. Karena dia bukanlah hanya sekedar pernyataan saja, janji saja atau sumpah saja, melainkan ketiga – tiganya sekaligus! Mari kita perhatikan satu persatu🙂

1. Pernyataan (Al I’lamu). 

Betapapun kecilnya, seiap pernyataan memiliki konsekuensi tertentu yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Misalkan pernyataan “Ya” dan pernyataan “tidak”.  Mungkin tidak ada perbedaan kualitatif dan kuantitatif yang signifikan bagi lidah dalam hal tingkat kesulitan untk mengucapkan Ya atau Tidak. Manakah yang lebih sulit bagi lidah untuk menggerakkan oto – otot moskular wajah dalam mengatakan “YA” atau “TIDAK”? berapa banyak jumlah pasang otot wajah yang harus ditarik dan dikendurkan untuk mengucapkan kata Ya dan berapa pula untuk mengucapkan kata Tidak? Perlu diketahui berapa untuk menyatakan Ya, seseorang memerlukan menarik 12 pasang otot wajahnya, sedangkan untuk menyatakan Tidak, seseorang memerlukan untuk menarik 14 pasang otot wajahnya. Jadi pada dasarnya tidak ada perbedaan yang berarti antara keduanya. Tapi maukah anda menyatakan Ya sebagai jawaban atas pertanyaan : Apakah kamu seorang pembunuh? Apakah anda seorang Pelacur? Jelaslah disini bukan pernyataan Ya atau Tidaknya yang menjadi masalah. Tetapi konsekuensi dibelakang oernyataan Ya dan Tidaknyalah yang harus diperhitungkan karena harus ditanggung oleh orang yang membuat pernyataan. Mengapa Abu Jahal tidak mau mengucapkan kalimat dua syahadat, bukan karena dia tidak dapat mengucapkannya. Tetapi dia tidak sangggup menanggung konsekuensi dibalik pernyataan dua kalimat syahadat tersebut.

2. Janji (Al Wa’du)

Jika seseorang berjanji, selama janji itu belum terealisir, maka dia akan merasa berhutang. Dalam hati kecilnya ada rasa bersalah (guilty feeling). Walaupun janji itu dia nyatakan kepada seorang penjahat sekalipun. Keberanian untuk berhaapan dengn seorang penjahat, baik seorang diri ataupun dengan banyak teman, tidak akan menggugurkan rasa bersalha jika seseorang telah menyatakan janjinya (tentu saja janji yang haq). Semakin jauh seseorang dari janiinya, maka akan semakin besar guilty feelingnya. Kecuali, jika orang tersebut adalah orang yang munafik. Karena salah satu ciri orang munafik adalah jika dia berjanji dia berkhianat (hadis Riwayat Muslim). Seseorang munafik tidak memiliki rasa bersalah disaat dia ingkar janji.

3. Sumpah (Al-Qasamu)

Dia tidak diucapkan setiap saat, hanya digunakan dalam keadaan darurat atau sikon yang diperlukan. Sehingga harga sumpah itu mahal dan tidak diobral. Sumpah biasanya digunakan untuk menukuhkan atau membangun rasa percaya. Adakalanya yang hendak dikukuhkan atau hendak dibangun adalah kepercayaan pihak lain atau adakalanya kepercayaan itu sendiri.

Apabila kepercayaan oranglain terhadap diri seseorang goyah, maka orang itu berusaha untuk meyakinkan oranglain tersebut.  Apabla segala upayanya untuk meyakinkan tidak berhasil barulah seseorang menyatakan berani sumpah! Adakalanya seseorang menjadi khawatir terhadap dirinya akan mundur dari apa – apa yang telah digariskan, sehingga orang tersebut menyatakan sumpahnya. Sumpah ini lebih berat dari sekedar janji. Karena disamping konsekuensi yang konsekuensi tertentu yang konkrit sehingga tidak dapat lagi untuk menghindar dari sumpah, Rasul-Nya dengan :
a. Membenarkan di dalam hati (At-tasdiiqu bil qalbi)
b. Dinyatakan secara lisan (Al-Qaulu billisaan)
c. Dibuktikan dengan perbuatan (Al-amalu bil arkaan)

Apabila seseorang membuktikan dengan hatinya, maka dia dikatakan memiliki nilai batin (Al-Qiimatul Baathiniyah). Artinya status keimanannya diakui oleh Allah Subhanallah wa Ta’ala. Sebaliknya betapapun seseorang menyatakan keimanannya secara lisan denan teriakan 200 desibel sekalipun dan mengerjakan semua amal mukmin, tapi jika hatinya mendustai Allah dan rasulnya,maka tetap saja dihadapan allah subhanahu wa ta’ala status keimanannya tidak diakui. Apabila seseorang membuktikan dengan amal perbuatannya, maka dia dikatakan memiliki nilai zhahir(al qiimatul zhahiriyah).artinya eksistensi keimanannya diakui oleh sesama mukmin. Sebaliknya,sesorang yang tidak mau mengamalkan amal seorang mukmin seperti shalat, shaum,dan zakat maka eksistensi keimanannya akan dipertanyakan oleh mukmin lainnya, sungguhpun dia telah bersyahadat, sungguhpun dia membenarkan di dalam hatinya ! mungkin orang-orang tertentu akan mengatakan: “dia beriman apa nggak sih,disuruh shalat aja nggak mau!”.

Apabila seseorang menyatakan dengan lisannya dua kalimat syahadat, maka resmilah dia diakui sebagai seorang muslim karena syahadat merupakan password (ID) untuk memasuki islam. Apabila seseorang lahir dari keluarga muslim, maka tidak perlu lagi dia bersyahadat. Dan secara otomatis dia diakui sebagai seorang muslim (al-Intisab). Islam memiliki prinsip – prinsip bahwa setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah (Islam), maka kedua bapak-ibunya, lingkungannya, pendidikannyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani, atau Majusi (hadis riwayat Bukhari). Berlainan halnya dengan orang Nasrani yang beranggapan bahwa setiap bayi yang lahir membawa dosa warisan dari Nabi Adam ‘Alaihissalam. Sehingga sebelum seseorang dibaptis atau memperoleh sakramen pemandian belum diakui sebagai seorang Nasrani. Meskipun kedua ibi bapaknya adalah Nasrani.

Seorang yang pernyataan syahadatnya didasari oleh pembenaran di dalam hati kemudian senantiasa diikuti oleh pembuktian dengan perbuatan, maka dia akan menjadi manusia yang istiqamah (konsisten, persiten, dan resisten).
Orang yang istiqomah, pada dirinya ada tiga ciri :
1. Berani (Asy Syaja’ah)
Orang yang istiqomah tidak takut kepada siapapun juga, kecuali pada Allah subhannahu wa Ta’ala. Berani karena benar! Itulah prinsip orang yang istiqomah.
2. Tenang (Ithmi’nan)
Setiap kali berhadapan dengan masalah, orang yang istiqomah tetap tenang. Tidak menjadi sedih atau murung. Karena dia tidak menyelesaikan sendiri permasalahannya. Dia selalu mengadukan, berkonsultasi bahkan jika     perlu melemparkan sama sekali seluruh permasalahannya kepada Allah. Dikatakan di dalam Al-Qur’an surat Ar- Ra’d – ayat : 28
Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Inngatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram. Orang – orang yang istiqomah yakin betul bahwa Allah adalah sebaik – baiknya tempat mengadu dan sebaik – baiknya pemberi jalan keluar
3. Optimis (At Tafa’ul)
Orang – orang yang istiqomah memiliki optimisme yang optimal. Dia tidak tergantung sekedar pada jaminan hari tua (pensiun). Tapi jaminan hari akhirat yang luasnya seluas kapling langit dan bumi. Bukan sekedar kapling real estate didunia. Sedangkan orang yang jahat dan berdosa itu sesungguhnya mereka telah berputus asa dari rahmat Allah Subhannahu wa Ta’ala. Sehingga mereka tidak memiliki optimisme surga, melainkan hanya kegilaan pada harta dunia yang tak dapat dibawa mati. Aji mumpung sama sekali jauh dari orang yang istiqomah. Karena bagi mereka yang istiqomah tidak akan mati sakit hati, apabila dia didzolimi dan tidak mampu menuntut balas didunia. Orang – orang yang istiqomah yakin betul bahwa Allah Subhannahu wa Ta’ala adalah sebaik – baiknya pembalas (The Avenger) dan Allah Subhannahu wa Ta’ala tidak pernah menyalahi janjinya. Dengan modal keberanian, ketenangan, dan keoptimisan, maka orang yang istiqomahakan bebas dari ketakutan (freedom from fear), tidak akan pernah merasa sedih tanpa sebab (kehampaan ekstensial) dan memiliki tingkat positive thinking yang tinggi (selalu berfikir nanti bagaimana?) dan bukan bagaimana nanti? karena selalu mengingat tanggung jawabnya dihadapan Allah Subhannahu wa Ta’ala. Dengan demikian hanya orang – orang istiqomahlah yang akan memperoleh kebahagiaan (Assa’adah) tidak hanya didunia, tetapi juga di akhirat.

2 thoughts on “SYAHADATKU – SYAHADATMU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s